Bacaan : Yer. 7: 16-26; Why. 3: 7-13, Ayat Nats : “Dengarkanlah suara-Ku, maka Aku akan menjadi Allahmu dan kamu akan menjadi umat-Ku, dan ikutilah seluruh jalan yang Kuperintahkan kepadamu,supaya kamu berbahagia!” (Yeremia 7:23)
Tiba-tiba saja pesawat yang saya naiki terguncang hebat. Banyak orang meneriakkan doa-doa. Di sebelah saya kebetulan seorang makanik pesawat ini. Saya menanyakan apa yang menyebabkan pesawat ini bergoncang hebat, ia menjawab karena pesawat ini melewati gumpalan awan yang tebal. Saya tanya kembali, kenapa tidak dihindari saja gumpalan awan itu. Mekanik ini menjawab, bahwa yang menentukan jalur penerbangan bukanlah pilot, namun pengarah yang ada di menara tujuan. Saat diarahkan melewati gumpalan awan, ya harus dilewati, karena justru itulah jalur yang aman. Sama halnya dalam kehidupan ini yang menawarkan banyak pilihan kepada kita. Sampai kita bingung menentukan pilihan mana yang harus dimiliki. Jika kita mau jujur bertanya, “apa yang menjadi ukuran pilihanku?” Secara umum orang memilih sesuatu karena berdasarkan suka. Suka warnanya, suka bentuknya, suka karena menyenangkan dirinya, suka karena sesuatu mempermudah dan lain sebagainya. Pokoknya segala sesuatu menyenangkan dirinya. Pikiran dan perasaan kita sendiri yang menjadi ukuran kesukaan pada sesuatu pilihan kita. Di sinilah seringkali orang pada akhirnya merasa kecewa terhadap hidup ini. Banyak pasangan setelah menikah kecewa dengan pilihan ‘tulang rusuknya’ karena ternyata banyak perbedaan sifat, tujuan hidup, kebiasaan-kebiasaan, yang membuat mereka selalu bertengkar hampir setiap hari. Banyak juga orang mengalami persoalan-persoalan hidup ditengah pilihan-pilihannya, yang berujung pada perasaan putus asa. Sebagai orang yang tidak hidup “sendiri lagi”, melainkan hidup dengan iman percaya kepada Tuhan, seharusnya pilihan-pilihan hidup harus kita arahkan pada suara atau kehendak Tuhan. Bukan supaya pilihan kita pasti pas. Melainkan saat kita merasa salah pilih, kemudian banyak persoalan hidup yang mengguncang karena kita memasuki awan kehidupan, kita tidak mudah kecewa, tidak cepat putus asa, dan tidak terjebak pada pemikiran bahwa hidupku telah gagal, tapi tetap percaya bahwa aku dapat melewati semua goncangan dalam kehidupan ini berkat Pengarah di menara sorgawi sana yang berkata, “Dengarkanlah suara-Ku, maka Aku akan menjadi Allahmu dan kamu akan menjadi umat-Ku, dan ikutilah seluruh jalan yang Kuperintahkan kepadamu,supaya kamu berbahagia!” (Yer.7:23) Arah pandang pada Pengarah, maka berbahagialah!
Inti Renungan
Sebagai orang yang tidak hidup “sendiri lagi”, melainkan hidup dengan iman percaya kepada Tuhan, seharusnya pilihan-pilihan hidup harus kita arahkan pada suara atau kehendak Tuhan.

![[Logo MITRA]](/img/logomitra.png)
