GKI Sinode Wilayah Jawa Tengah

Login
Remember me

MALAS ADALAH PANGKAL DARI MASALAH

Baru Wed, 20 Jul 2016   

oleh:

Ams. 9: 5-15; Yoh. 6:41-51

Apa yang menghancurkan sebuah benteng pertahanan yang kuat? KEMALASAN Kemalasan para prajurit yang malas berlatih, malas untuk memeriksa kelemahan yang mungkin dimiliki, malas untuk memperbaiki dan berbagai kemalasan yang lain. Karena itu hidup dengan malas adalah pangkal dari segala kehancuran. Pekerja yang malas menjadikan pekerjaanya terlambat dan berantakan. Akibatnya orang tidak akan menpercayakan pekerjaan atau tugas kepadanya. Oleh karena itu penulis kitab Amsal menyuruh kepada pemalas belajar kepada semut yang bekerja dengan giat untuk mendapatkan makanan mereka. Karena mereka tahu ada waktunya; di musim dingin mereka tidak akan bisa bekerja. Karena itu teriaknya:
Amsal 6:6 (TB)  Hai pemalas, pergilah kepada semut, perhatikanlah lakunya dan jadilah bijak: Perumpamaan Tuhan Yesus tentang tanah pinggir jalan, tanah berbatu, tanah bersemak duri menunjukkan masalah yang sama: KEMALASAN. Siapakah yang punya hati yang keras seperti pinggir jalan? Siapakah yang punya hati seperti tanah tanah yang berbatu? Siapakah yang punya hati seperti tanah yang bersemak duri? 
Bukankah mereka yang MALAS untuk merawat hatinya untuk menjadi tanah yang subur supaya benih Firman Tuhan bertumbuh dan berbuah yang lebat; entah berapa kali lipat? Ajakan kepada kita hari ini: olahlah hati kita untuk menjadi tanah yang subur sehingga benih Firman Tuhan bertumbuh dan berbuah. Ingat: malas hanya menjadikak kita tak mampu hidup di dunia ini. Kalau masih malas, carilah semut segera. Perhatikanlah mereka yang rajin bekerja. Khalil Gibran: Kerja adalah cinta yang mengejawantah. Kalau engkau bekerja dengan enggan, lebih baik engkau mengambil tempat di depan gapura candi, dan meminta sedekah dari mereka yang bekerja dengan penuh sukacita - dari Sang Nabi- Khalil Gibran; sampul kaset KLa Project.