GKI Sinode Wilayah Jawa Tengah

Login
Remember me
GKI Klasis Magelang

GKI Pajajaran Magelang

Sejarah singkat

Magelang adalah kota sejuk yang terletak di bawah gunung Tidar.  Di masyarakat, konon gunung Tidar dikenal sebagai ‘pakunya pulau Jawa’, sehingga membuat pulau Jawa terpancang kuat.  Di kota inilah, sejak tahun 1932, GKI Pajajaran, yang semula memakai nama Hoa Kiauw Kie Tok Kauw Hwee dan pernah memakai nama GKI Magelang, hadir.

Pada awalnya, tahun 1917, ada kumpulan pemberitaan Injil di Jl. Pemuda.  Kumpulan itu menghasilkan buah-buahnya pada diri Sdr. Go Tjoen Poo, Sdr. Go Siang Kang dan Sdr. tan Thoan Tjoen.  Mereka dibaptis pada tanggal 3 Agustus 1922 oleh Pdt. A. Merkelijn, utusan zending Belanda.  Ternyata pelayanan kumpulan itu mendapat perhatian besar dari masyarakat Tionghoa, sehingga memerlukan tempat yang lebih luas.  Karena itu, mereka pindah ke Jl. Juritan Lor 28 dan kemudian ke Jl. Sablongan.  Sejak itu, perkumpulan itu menjadi sebuah jemaat yang diberi nama Hok Im Tong (Gereja Injili) dan dilayani oleh Guru Injil The Poo Sie.  Selanjutnya, para Guru Injil yang melayani mereka adalah R. M. Wirjotrisno, Sie Ing Kong, Liem Cheh, Dhiong Hong Sik dan Chew Choon Hay.  Dengan berkat Tuhan dibangunlah sebuah gedung gereja dengan biaya ƒ. 12.000 dan diresmikan pada tanggal 22 Desember 1932 dengan nama Hoa Kiauw Kie Tok Kauw Hwee.  Kemudian, jemaat ini didewasakan pada tanggal 2 September 1934.  Majelis Jemaatnya yang pertama adalah Pnt. Giam Khi Jam, Pnt. Go Tjoen Poo, Pnt. Ie Tjien Sien, Pnt. Kho Hong Tjhan, Dk. Tan Thoan Tjoen dan Dk. Tjong Kiem Hwat, dengan konsulennya Pdt. A. Pos.

Pada tahun 1939 Pdt. Dr. John Sung (Sung Siak Cheek) mengadakan Kebaktian Kebangunan Rohani, khususnya untuk masyarakat Tionghoa, dan memperoleh perhatian besar terutama melalui khotbah-khotbahnya yang mengesankan.  Salah seorang yang disembuhkan pada saat ituadalah Ibu Tabita Tanudjajamulia (Ny. The Kiem Khing), yang kemudian menjadi pekabar Injil di GKI Jl. Kebonjati 100, Bandung.  Pada tahun 1968, beliau mempersembahkan rumahnya di Jl. Pemuda untuk GKI Magelang.  Rumah itu dijual dan dibelikan rumah di Jl. Sindoro 6 Magelang sebagai pastori.

Tercatat dalam sejarah, bahwa penginjilan ke Grabag berhasil dengan didewasakannya jemaat di Grabag pada tanggal 15 Agustus 1938. Selanjutnya, menyusul jemaat Blabak yang didewasakan pada tanggal 9 Agustus 1947 dan dilayani oleh Guru Injil Lie Tie Jong.  Sementara itu, penginjilan ke Bandongan dilayani oleh Nona C. Barbee, Ny. Kho King Liang, Sdr. Tjong Kiem Hwat dan Sdr. Ie Tjien Sien.  Kendati tak berhasil didewasakan, namun pada tahun 1941 jemaat Bandongan pernah menyewa rumah untuk dijadikan tempat kebaktian.  Akibat perkembangan politik, jemaat-jemaat di atas tersebut tak ada lagi, karena banyak anggotanya yang berpindah ke Magelang atau kota-kota lain.

Sejarah juga mencatat bahwa persidangan Sinode Tiong Hoa Kie Tok Kauw Hwee/Hoa Kiauw Kie Tok Kauw Hwee yang pertama terjadi pada tanggal 7-8 Agustus 1945. Peristiwa ini melatarbelakangi pencarian tanah untuk Kantor Sinode GKI Jawa Tengah pada tahun 1974 dan terwujud dengan lahan seluas 5.300 m2 di Menowosari, Magelang Utara. Di atas lahan ini dibangun kantor Sinode GKI Jateng, rumah sekretaris umum sinode, rumah kepala kantor sinode, gedung pertemuan dan sarana penginapan bagi para peserta persidangan/kegiatan, yang kemudian dikenal dengan nama Kompleks Wisma Sejahtera, di Jl. Menowosari 23 A, Magelang.

Selanjutnya, jemaat ini juga melaksanakan pemberitaan Injil ke Muntilan dan mengasuhnya secara bergantian dengan GKI Ngupasan Yogyakarta.  Setelah sekian belas tahun, cabang jemaat ini baru berhasil didewasakan pada tanggal 31 Agustus 1971.  Selain itu, jemaat ini juga pernah menerima penugasan untuk mengasuh GKI Wonosobo selama tiga tahun, yang kemudian dipindahkan ke GKI Temanggung pada tahun 1955.

Berkaitan dengan pelayanan para pendeta dan calon pendeta, kisah ini diawali dengan penahbisan Pdt. Tan Kieng Hien pada tanggal 15 Oktober 1942, yang kemudian pindah ke GKI Pengampon Cirebon pada tanggal 3 Mei 1957. Selanjutnya disususl oleh Pdt. Gideon Karyadi Dwidjopramono (Goei Kian Sing) yang ditahbiskan pada tanggal 29 Juni 1961 (emeritasi pada tanggal 19 Agustus 1981), kemudian Pdt. Samuel Dharmahatmadja (Njoo Liang Sing) pada tanggal 3 Januari 1963 (pindah ke GKI Karangsaru Semarang pada tanggal 26 November 1964), Pdt. Budhiadi Henoch (Hiem Bian Kiet) pada tanggal 30 Agustus 1967 (pindah ke GKI Taman Cibunut Bandung pada tanggal 30 Agustus 1976) dan Pdt. Andreas Abdianto Tjahjono (Tjan Tjian nam) yang ditahbiskan pada tanggal 24 November 1972 (kemudian pindah ke Singapura per 1 September 1979).  Sementara itu, jemaat ini juga memanggil Sdri. Liestiati (Lie Liang Nio), lulusan Sekolah Pekerja Wanita Kristen Magelang, yang melayani jemaat ini sejak tahun 1963 hingga 1978.  Berikutnya, dipanggil pula Pdt. Peter Pandyopranoto (Pan Ing Fang), yang sebelumnya melayani GKI Pengampon Cirebon (emeritasi pada tanggal 17 November 1994), dan Pdt. Theo Woluono Setiaputra (Tio Tee Pik), yang sebelumnya melayani GKI Purwokerto cabang Cilacap, yang kemudian diteguhkan pada tanggal 30 Juni 1981.  Sayang, pada tanggal 29 Agustus 1982, Pdt. Theo W. Setiaputra mengalami kecelakaan sepulangnya dari melayani kebaktian di GKI Salatiga dan dipanggil pulang ke rumah Bapa.  Karena itu, jemaat kemudian memanggil Pdt. Samuel Santoso (Sam Tjioe), yang semula melayani GKI Jatim Tulungagung, dan meneguhkannya pada tanggal 1 Agustus 1983, namun kemudian pindah ke GKI Purworejo pada tahun 1986.  Stelah itu, jemaat juga menahbiskan Sdr. Johannes Darmawan, pada tanggal 16 Februari 1994, namun kemudian pindah ke GKI Pregolan Bunder Surabaya pada tanggal 19 April 1994, serta Ny. Vonny Samuel dan Sdr. Eka Setiawan Teja Kesuma pada tanggal 2 Februari 1999 secara bersamaan.  Dalam rentang waktu yang panjang ini, GKI Pajajaran juga menerima pelayanan dari tenaga-tenaga khusus dari Sinode GKI Jateng, seperti Pdt. Paulus Sardjono (Tjan Thiam Tjong) selaku Sekretaris Umum Sinode yang diteguhkan pada tanggal 25 Januari 1977, Pdt. James Paul Poynor (1978-1980) selaku tenaga dari PCUSA dan Ibu Berryl Nelson Eksteen dari Overseas Missionary Fellowship (1980-1989).  Di samping itu, tidak dapat dilupakan juga karya dari para tenaga Guru Injil yang ikut mengambil bagian dalam kehidupan jemaat GKI Magelang, yaitu Sdr. Ie Tjien Sien (1939-1941), Sdr. Lie Tie Jong (1942-1944), Sdr. The Sing Liong (Cornelius Martosuwito, 1941-1942), Sdr. Sie Tjing Kiat (1950), Sdr. Tjoa Tjin Touw (Basile Maruta, 1950) dan Sdr. Hendra Gosana (1979-1982).

Sehubungan dengan kebutuhan pelayanan kepada saudara-saudara yang berbahasa Kuo Yu (Mandarin) yang terhenti beberapa tahun sebelumnya, dibentuklah pada tahun 1962 panitia pelayanan kebaktian dalam bahasa tersebut.  Kebaktian dalam bahasa ini dilayani oleh tenaga-tenaga dari Madrasah Alkitab Asia Tenggara (yang kemudian berganti nama menjadi Seminari Alkitab Asia Tenggara), baik para dosen, maupun para mahasiswanya.  Sesekali juga pelayan dari GKI Stadion Semarang dan Gereja Kristen Kalam Kudus Yogyakarta.  Tak terkecuali juga para pengkotbah dari luar negeri dalam rangka Kebaktian Kebangunan Rohani.  Kebaktian dalam bahasa Kuo Yu ini menjadi cikal bakal GKI Jl. Diponegoro 57, Magelang, yang didewasakan pada tanggal 20 Februari 2002.

Berikutnya, perkembangan jemaat di wilayah Utara membuka kemungkinan dimulainya kebaktian di Toko Bunga Veronica, Jl. A. Yani 29, pada tanggal 17 Mei 1970.  Tepat sepuluh tahun kemudian dibentuklah Panitia Jemaat dengan diketuai oleh dr. B. Laksana Hidajat, yang disusul pada tanggal 15 Mei 1983 dengan dibentuknya Panitia GKI Magelang cabang Poncol dan akhirnya didewasakan pada tanggal 10 Agustus 1986 dengan nama GKI Pahlawan Magelang.  Dengan kehadiran jemaat yang baru ini, jemaat induknya melakukan perubahan nama menjadi GKI Pajajaran Magelang.

Di lingkungan sinode GKI Jateng, jemaat ini merintis terbentuknya Komisi Pria pada tanggal 7 Juli 1974, dengan kegiatan pelayanan konsultasi kesehatan, yang kemudian ditingkatkan menjadi Balai Pengobatan GKI pada tahun 1980.  Kemudian, dibentuk pula Komisi Lanjut Usia (Kolansia) pada tanggal 23 Agustus 1986.  Berikutnya, pelayanan GKI Magelang juga menjangkau para taruna Akademi Militer Nasional, Sekolah Pekerja Wanita Kristen Magelang, Rumah Sakit Bersalin Yoga Dharma milik YAKKUM dan Panti Werdha Pelayanan Kristen Magelang (Pelkrim).  Selain itu juga pelayanan kepada tahanan G-30-S, yang menghasilkan sejumlah baptisan baru.

Pada akhirnya, haruslah disebutkan tentang keunikan dari jemaat GKI Magelang ini, yaitu dikenal sebagai gudangnya para calon pendeta.  Ketika dirayakan ulang tahun ke-40 GKI Magelang (tahun 1972), tercatat 40 orang yang telah atau akan menjadi pendeta di pelbagai sinode.  Kemudian, dalam rangka reuni pendeta/calon pendeta pada tahun 1988, tercatat ada 57 orang.  Itu berarti rata-rata setiap tahunnya ada seorang anggota jemaat GKI Magelang yang menjadi pendeta.

Pendewasaan
2 September 1934
Jadwal ibadah
Umum06.00; 08.00; 16.30
Anak07.30; 09.00
Remaja10.00
Pemuda18.00 (Sabtu)
Persekutuan Pagi06.00 (Selasa

 

Kontak
  • Jl. Pajajaran 27, Magelang – 56122
  • Telp: (0293) 362460; Fax: (0293) 361837; Hp. 0851.0081.1157
  • gkipajajaranmagelang@ymail.com
Statistik Anggota Jemaat
SidiBaptisan
PriaWanitaPriaWanita
690983327245
Total anggota jemaat 2245
Pendeta Jemaat
  • Pdt. Eka Setiawan Tejo Kesuma
  • Pdt. Em. Vonny Samuel
  • Pdt. Lery Tulus Lumban Tobing
Bakal jemaat
    -
Pos
    -