GKI Sinode Wilayah Jawa Tengah

Login
Remember me
GKI Klasis Semarang Timur

GKI Peterongan Semarang

Sejarah singkat

Pemberitaan Injil di Jawa Tengah bagian Selatan dimulai pada sekitar tahun 1861 oleh Ny. Oostrom Philips dan iparnya Ny. Philip Steven, yang selanjutnya diambil alih oleh gereja Gereformeerd di negeri Belanda. Sementara itu, di wilayah Jawa Tengah Utara PI itu dilaksanakan secara pribadi oleh Ny. Le Jolle, istri kepala pabrik di dekat Salatiga. Selanjutnya, setelah beliau kembali ke negerinya, PI tersebut dikerjakan oleh perkumpulan PI Jerman, yang kemudian dikenal dengan sebutan Salatiga Zending.

Pelayanan PI mereka semula ditujukan kepada orang-orang pribumi, namun kemudian juga ditujukan kepada orang-orang Tionghoa. Pertobatan orang-orang Tionghoa terjadi satu demi satu, namun semakin hari semakin banyak. Pada umunya pertobatan itu terjadi lewat sekolah Kristen, baik yang didirikan oleh Zending maupun oleh pemerintah Hindia Belanda. Karena faktor bahasa yang dipakai, yakni bahasa Melayu, maka kelompok orang Kristen Tionghoa kemudian membentuk gereja sendiri yang dikenal sebagai Tiong Hoa Kie Tok Kauw Hwee (THKTKH). Di Semarang, gereja itu disebut Tiong Hoa Kie Tok Kauw Hwee Semarang, yang dikembangkan oleh Pdt. Liem Siok Hie sejak tahun 1932 dan menjadi dewasa pada tanggal 7 April 1935. Itulah yang kini disebut GKI Karangsaru, induk dari GKI Peterongan Semarang. Karena itu, untuk mengenal GKI Peterongan, kita pun harus mengenal gereja induknya.

Pada tahun 1963 muncul pemikiran, bahwa sebuah jemaat yang bertumbuh jangan dipusatkan di sebuah jemaat saja sehingga menjadi amat besar, melainkan harus juga dikembangkan ke tempat yang lain, baik ke Semarang Tengah maupun ke Semarang Timur. Itulah sebabnya kendati telah mempunyai 3 orang pendeta, yakni Pdt. S.H. Liem, Pdt. Sulaiman Budipranoto dan Pdt. Zacharia W. Susetya, Majelis Jemaat perlu memanggil seorang pendeta lagi untuk menjawab kebutuhan tersebut. Oleh karena itu, pilihan jauh pada Pdt. Samuel Dharmahatmadja, yang semula melayani GKI Magelang dan kemudian diteguhkan pada tanggal 26 November 1964.

Untuk mewujudkan niat desentralisasi itu, dibentuklah Panitia Pembangunan yang terdiri dari Sdr. Go Hong Djwan (Hardjanto Nugroho), Sdr. Kwee Giok Liang (D.H. Setiabudi), Sdr. Oei kang Yang (Y.K. Winata), Sdr. Go Swie Djwan (M. Sudirgo Nugroho) dan Sdr. Iee Khik Siang (B. Tedjorahardjo), yang mempunyai tugas untuk mencari tanah dan rumah yang dibutuhkan. Lalu didapatlah sebidang tanah seluas 2500 m2 milik keluarga Tasripin berikut bangunannya, di Jl. Peterongan (Kompol Maksum) 310. Tanah dan rumah tersebut dibeli dengan harga 125 juta rupiah melalui pinjaman tanpa bunga dari GKN, berkat pendekatan Pdt. Sulaiman Budipranoto. Setelah dipugar, maka bagian pavilyunnya digunakan untuk pastori, sedang bagian induknya menjadi gedung kebaktian. Peresmian penggunaan gedung gereja dilaksanakan pada tanggal 31 Oktober 1966, yang dihadiri oleh Wakil Walikota Semarang, yakni Bpk. R.M. Soeharjo dan pembukaan pintu gerejanya oleh Pdt. Sulaiman Budipranoto. Peristiwa ini menjadi hari jadi GKI Peterongan.

Selanjutnya, dilaksanakan sistem desentralisasi dengan cara membagi kota Semarang menjadi tiga wilayah pelayanan (rayon). Diawali pada tanggal 1 Juli 1969 dengan batasan-batasan wilayahnya masing-masing, namun tetap dalam satu pimpinan Majelis Jemaat Pusat. Berikutnya, pada tanggal 1 Juli 1973, ketiga rayon tersebut, diberi keleluasan dalam mengembangkan potensi jemaat rayonnya masing-masing, tanpa harus terikat dengan Majelis Jemaat Pusat. Disusul pada tanggal 30 juni 1975, dilakukan desentralisasi keuangan dengan prinsip mengembangkan kemampuan membiayai sendiri (self supporting) sebagai indikasi menuju kemandirian. Selanjutnya, pada tanggal 7 oktober 1980 dibentuk panitia 5 orang yang terdiri dari Sdr. Y.K. Winata, Sdr. B. Tedjorahardjo, Sdr. Tirtaamidjaja, Sdr. Suryaatmadja dan Sdr. Lukas Setiawan, dengan tugas untuk menata jabatan Ketua Majelis Jemaat Pusat secara bergiliran dan menjajagi kemungkinan desentralisasi penuh (dewasa).

Pada tanggal 6 Februari 1981, Majelis Jemaat Pleno memutuskan pelaksanaan desentralisasi total, sehingga dapat mengembangkan jemaat-jemaat rayon secara mendiri. Hal ini dipersiapkan secara matang dan direncanakan terlaksana pada 6 Februari 1987. Oleh karena itu dibentuklah Panitia Pendewasaan Rayon II (Beringin) dan Rayon III (Peterongan), sedang Rayon I (Karangsaru) yang statusnya sebagai induk tak perlu didewasakan. Adapun Panitia tersebut terdiri dari Sdr. J. Tirtaamidjaja (Ketua), pnt. T. Kurniadi (Wakil Ketua), Dk. E. Wibowo (Penulis) dengan anggota Pdt. Zacharias W. Susetya, Pdt. Samuel Dharmahatmadja, Pdt. Benyamin Susilo, Pdt. Timothy SHD, Pnt. Lukas Setiawan, Sdr. Y.K. Winata dan Pnt. Lukito Budiono.

Setelah rencana ini diajukan ke Persidangan Klasis Semarang dan disetujui, maka pendewasaan pun dilaksanakan pada tanggal 8 Februari 1987 menjadi GKI Beringin dan GKI Peterongan. Inilah susunan Majelis Jemaat GKI Peterongan yang pertama: Pdt. Samuel Dharmahatmadja, Pnt. Anna Ang, Pnt. Oeke Winarty, Pnt. Haryanto Widjaja, Pnt. H.A. Sulistyo, Pnt. Sutanto, Pnt. Rokyanto Lesmana, Pnt. Daud Tampi, Pnt. Susanto W.P, Pnt. J.J. Kiswandono Yahya Rahardja, Pnt. Herry Lianto, Pnt. Lukas Setiawan, Pnt. Hendro Abraham, Pnt. Samuel Robyanto, Pnt. Freddy Susilo, Pnt. Daniel Tampi, Pnt. Sonny Tjahjono, Pnt. Matius Handoko, Pnt. Eddy Sudarma, pnt. Markus Wihadjaja, Pnt. N. Nico Kuntjoro, Pnt. D. Handoko Widjaja, Pnt. P. Poenadi Leksono, Pnt. Rudy hantoro, Pnt. Eddy Wiranto, Pnt. Soekarno, Pnt. Runtih Nion, Dk. Budisetia Kr, Dk. Ny. Andi Maleachi, Dk. David Widjaja, Dk. Ny. Gunarto, Dk. Ny. P. Soewarno, Dk. Patil Brotoseno.

Selanjutnya di GKI Peterongan mengembangkan pelayanan PI-nya ke daerah Karanggawang. Langkah ini didorong oleh program peremajaan kota Semarang, sehubungan dengan pemindahan sebagian warga kota yang menempati rumah sewa milik Pemda yang dikenal denagn nama ‘Asrama Kaligawe’ dan kemudian dikenal dengan nama ‘Asrama Transito’. Hal ini juga didorong oleh pemindahan asrama transmigrasi Jawa Tengah di Jl. Raden Patah 207-209 ke bekas pemakaman Tionghoa Karanggawang. Kemudian, ada permohonan pembinaan dari warga Kristen, yang diwakili oleh Sdr. Indaryanto, Sdr. Soeseno dan Sdri. Carolina Yohima yang diajukan pada tanggal 18 Maret 1984 kepada GKI Karangsaru. Permohonan itu dijawab dengan dimulainya Persekutuan Doa Rumah Tangga (PDRT) yang dipimpin oleh Bpk. Kuntono Wihardjo pada tanggal 15 Juli 1984, yang bertempat di rumah Sdr. Indaryanto dengan duduk di atas tikar. Karena jarak yang dirasakan cukup jauh dan sulitnya transportasi menuju ke Karangsaru, maka diadakan kebaktian Minggu pada tanggal 4 November 1984, pukul 11.00, yang juga dilayani oleh Bpk. Kuntono Wihardjo. Perkembangan berikutnya, berkaitan dengan pembagian wilayah (rayon), karena wilayah tersebut masuk dalam pelayanan GKI Peterongan, maka pengelolaannya pun dipindahkan ke GKI Peterongan. Hal ini terjadi setelah peringatan Jubeleum GKI Karangsaru pada tanggal 8 April 1985, dimana warga Karanggawang mendapat bantuan gedung pertemuan yang diberi nama ‘Gedung Karanggawang Indah’ (GKI) dan masih dipakai hingga sekarang.

Tahap pengelolaan warga Karanggawang berikutnya adalah dengan membentuk panitia yang mempunyai tugas untuk mencari tanh guna mendirikan gedung gereja, yang terdiri dari J. Soeseno (Ketua), Indaryanto (Sekretaris), Ny. Carolina Yusgianto (Bendahara), Sahirman Saenan (Seksi Dana) dan dibantu beberapa seksi. Panitia ini berhasil membeli dari pihak Pemda sebidang tanah seluas 160 m2. Sementara Majelis Jemaat menambahnya dengan 3 kavling lagi. Sesudah itu, pada tanggal 4 Desmber 1991 dilakukan peletakan batu pertama pembangunan gedung gereja GKI Peterongan Pos PI Karanggawang oleh Pdt. Samuel Dharmahatmadja. Kini, pengunjung kebaktiannya telah mencapai sekitar 100 orang.

Pendewasaan
6 Februari 1987
Jadwal ibadah
Umum06.00; 08.30; 17.00
Remaja08.30
Anak08.30
Persekutuan Pemuda17.30 (Sabtu)
Persekutuan Lansia18.00 (Selasa Minggu 4); 09.00 (Jumat)

 

Kontak
  • Jl. Kompol Maksum 310, Semarang - 50242
  • Telp : (024) 8411670 ; 8314870 ; Fax : (024) 8416095 ; HP : 0857.428.15880
  • gkipeterongan@gmail.com
Statistik Anggota Jemaat
SidiBaptisan
PriaWanitaPriaWanita
16511982375392
Total anggota jemaat 4400
Pendeta Jemaat
  • Pdt. Em. Wibisono Siswanto
  • Pdt. Jerdy Stevan
  • Pdt. Rinta Kurniawati Gunawan
Pos
    -