GKI Sinode Wilayah Jawa Tengah

Login
Remember me
GKI Klasis Purwokerto

GKI Sokaraja

Sejarah singkat

Anda pernah mengenal kota Sokaraja? Terkenal dengan getuk goreng dan srotonya (=soto) yang khas. Bahkan dahulu pernah terkenal juga dengan lukisan-lukisan yang diekspor sampai ke Singapura.  Itulah kota kecil yang dikelilingi oleh kota Purwokerto, Purba­lingga dan Banyumas dengan jarak yang hampir sama sekitar 10 km.  Di tengah kota mengalir kali Pelus yang tenang, namun kalau datang banjir cukup kuat untuk menghanyutkan orang.

Ternyata kota kecil ini telah ditaburi benih Injil pada tahun 1928, ketika dibuka Christelijke Hollandsche Chineeze School di bawah pimpinan guru dan pekabar Injil A.J. Swanborn. Ia mengada­kan kontak tidak hanya dengan para muridnya, melainkan juga dengan para orang tua mereka, khususnya di luar jam sekolah.  Karena itu, segera terbentuk `koempoelan' di rumah Sdr. Siem Tiong Tit dan dihadiri oleh Ny Thio Hian See, Ny Lie Pok Chin, Ny. Tan Tjiauw Yong, Ny. Kho Po Gwan, Sdr. Go Eng Tjoe dan tuan / nyonya rumah sendiri. Itulah yang kemudian dikenal dengan `bijbelkring', mirip-mirip dengan pemahaman Alkitab sekarang. Sekali waktu juga dipimpin oleh Pdt. Dr B.J. Esser dari Purbalingga. Status jemaatn­ya masih berupa pos PI dari Gereformeerde Kerk kring Purbalingga. Baru kemudian menjadi cabang jemaat dari Tionghoa Kie Tok Kauw Hwee Purbalingga setelah jemaat induk itu dewasa pada tahun 1943.  Maka salah seorang murid A.J. Swanborn adalah Sdr. Go Eng Tjoe yang kemudian masuk ke sekolah teologi di Yogyakarta pada tahun 1933, kendati baru dibaptis pada tahun 1934 di Gereja Kristen Jawa Purbalingga oleh Pdt. Dr B.J. Esser. Peristiwa baptisan itu sendiri unik, karena kebaktiannya diadakan pukul 19.00 - 20.00 dengan maksud agar dapat dihadiri oleh banyak orang Tionghoa dari Sokaraja. Setelah lulus, Sdr. Go Eng Tjoe bekerja sebagai guru Injil di jemaat Purwokerto dan membantu jemaat Sokaraja, berkhotbah dua kali sebulan, kemudian dilanjutkan dengan perkun­jungan rumah tangga. Berikutnya, Sdr. dan Ny Siem Tiong Tit dibap­tis kemudian di ruang kelas HCS Sokaraja. Baru kemudian disusul dengan baptisan atas diri Sdr. Kho Kwie Liem pada tanggal 25 Agustus 1940, dan Ny Oey Hway Soen, Sdr. Goei Yam Soen dan Sdr. Gan Teng Giok pada tanggal 15 Desember 1940 yang dilayani oleh Pdt. A.F.J. Pieron dari Purbalingga. Pdt. A.F.J. Pieron fasih berbahasa Tionghoa, karena memang beliau dipersiapkan oleh Zending Gere­formeerde Kerk Rotterdam untuk memberitakan Injil mula-mula di kalangan pelaut Tionghoa dalam pelayaran mereka, namun kemudian kepada orang Tionghoa pada umumnya di Purbalingga, Cilacap dan Kebumen. Ia dibantu oleh guru Injil Koo Bie Liong (1941-1942), Sdr. Koo Bie Tjay dan guru Injil Siem Tjien Hie (sampai 1947).  Ketika Jepang menduduki Indonesia, Pdt. A.F.J. Pieron ditawan dan meninggal dalam perjalanan pengasingannya ke luar negeri (1943).

Sejak tahun 1943, jemaat Sokaraja menjadi cabang dari THKTKH Purbalingga dan dibentuk panitia jemaat yang terdiri atas Sdr. Kho Kwie Tjong, Sdr. Goei Se Liang, Sdr. Gan Teng Giok (T.G. Gani) dan Sdr. Go Eng Pik. Baru kemudian ditambah lagi dengan Sdr. Go Eng Gian, Sdr. Oey Thiam Ik, Sdr. Kho Kwie Liem, Sdr. Tan Djin Seng dan Sdr. Tjhie Hway Lian. Kebaktian setiap hari Minggunya dilayani oleh Pdt. Misael dari GKJ Purwokerto, juga Guru Injil keliling Bapak Wongsokenongo, Sdr. Tjhie Hok Kwie dan Sdr. Tan Gwan Bie dari THKTKH Purwokerto.

Karena guru Injil Siem Tjien Hie tak dapat melanjutkan pelaya­nannya di Sokaraja akibat agresi militer I, maka jemaat dilayani oleh guru Injil Kho Im Liong (Imam Kosasih) dari THKTKH Purba­lingga (1948-1954). Selanjutnya, pada tanggal 1 Juli 1954 guru Injil Oei Djie Kong (N.E.Jeshua) dipanggil oleh jemaat THKTKH Purbalingga (berganti nama menjadi GKI Purbalingga per 1956), namun bertempat tinggal di Sokaraja. Inilah pertama kali jemaat merasakan kehadiran seorang guru Injil dan beliau melayani hingga 1 September 1957, karena menerima panggilan GKI Sangkrah Surakar­ta. Pada tahun 1958, dua orang pemuda Sokaraja merasa terpanggil untuk memasuki sekolah teologi Kho Kian Heng (J.H.Wirakotan) ke STT Jakarta selama 5 tahun dan Hiem Bian Kiet (Budhiadi Henoch) ke Akademi Theologia Yogyakarta selama 6 tahun.

Pada tahun 1957 pula, jemaat Sokaraja dipindahkan menjadi cabang dari GKI Purwokerto yang dilayani oleh Pdt. The Sing Liong (Corne­lius Martosuwito), pengganti guru Injil Oei Djie Kong. Beliau berdomisili di Banyumas, yang juga menjadi cabang dari GKI Purwo­kerto. Berikutnya, mulailah jemaat membangun gedung gerejanya di atas tanah persembahan keluarga Sdr. Kho Eng Twan dan diresmikan penggunaannya pada tanggal 26 Agustus 1959. Setelah Pdt. The Sing Liong memasuki masa emeritasi, dipanggillah guru Injil Tan Siok Koen (S.K. Tanuwidjaja) pada tanggal 26 Maret 1965 dan ditahbis­kan pada tanggal 26 Maret 1968. Sementara itu jemaat Sokaraja didewasakan pada tanggal 26 Maret 1966 menjadi GKI Sokaraja dengan susunan Majelis Jemaatnya yang pertama : Pnt. Tjhie Hway Lian, Pnt. Tan Djin Seng, Pnt. Go Eng Pik, Pnt. Sumardjo, Pnt. Kho Kwie Liem, Diaken Tan Ho San, Diaken Ny Go Eng Hiem dan Diaken Ny Kho Kwie An dengan pendeta kosulennya Pdt. The Hian Hoo.

Selanjutnya, pelayanan Pdt. Tan Siok Koen (S.K.Tanuwidjaja) ber­langsung sekitar 5 tahun, karena beliau dipanggil oleh GKI Kebu­men pada 31 Desember 1970. Karenanya jemaat mengalami kekosongan pengerja selama beberapa tahun. Untuk mengisi kekosongan itu, berturut-turut telah hadir di tengah jemaat Sdri. Nani Yulianti (1 Juni 1971-31 Agustus 1972), yang menjadi guru agama Kristen di SMKK Mardikenya Purwokerto diperbantukan melayani jemaat GKI Sokaraja; Drs The Khoen Bik (3 September 1972-Pebruari 1973), yang ditempatkan oleh Deputat PI Sinode GKI Jateng di GKI Sokara­ja dan kemudian di GKI Taman Cibunut Bandung berkaitan dengan persiapannya untuk studi di luar negeri dan diproyeksikan sebagai dosen PAK di STT `Duta Wacana' Yogyakarta; Sdr. Kusena Muliana (11 Maret 1973-31 Desember 1973) dan Sdr. Andreas Agus Susanto (Maret 1974-Januari 1975), yang juga ditempatkan oleh Deputat PI Sinode GKI Jateng untuk pelayanan jemaat; Sdr. Agus Susanto (Maret 1975-30 Juni 1981) bersama istrinya, Sdri. Nani Yulianti menempati pastori baru yang diresmikan pada tanggal 31 Maret 1975. Selama pelayanan beliau, jemaat membangun sarana pelayanan Sekolah Minggu, pemuda dan jemaat berupa gedung baru di atas tanah di belakang gedung gereja. Sampai pada tanggal 30 Juni 1981 ketika beliau menerima panggilan jemaat GKI Jatim, Jl. Diponegoro 146, Surabaya.

Kembali terjadi kekosongan pengerja, karena itu jemaat meminta bantuan Pdt. Em. Petrus Hardjopranoto (The Hian Hoo) untuk melaya­ni jemaat GKI Sokaraja dan cabang Banyumas mula-mula sejak Juli 1981 hingga 31 Desember 1982, namun kemudian diperpanjang hingga 31 Desember 1984. Pelayanan beliau membuahkan hasil berupa gedung gereja dan pastori cabang Banyumas, Jl. Pungkuran 638, yang diresmikan pada tanggal 18 Desember 1982. Peristiwa ini mendorong jemaat cabang Banyumas untuk mempersiapkan pendewasaannya. Tern­yata beliau juga berhasil membantu jemaat GKI Purbalingga untuk pembangunan pastori di Bobotsari, pada tahun 1984.

Sementara pelayanan Pdt. Em. Petrus Hardjopranoto masih berjalan, pada tanggal 1 Maret 1983 jemaat GKI Sokaraja memanggil Sdr. Widi Artanto yang melayani jemaat hingga 31 Agustus 1984 berhubung beliau memenuhi panggilan untuk bekerja di Lembaga Pengabdian Masyarakat yang didirikan oleh STT `Duta Wacana', Yogyakarta.  Segeralah pada tanggal 1 September 1984 jemaat memanggil Sdr. Yusak Endra Widyapranawa dan ditahbiskan pada tanggal 5 Pebruari 1987. Dalam periode ini, jemaat GKI Sokaraja menerima hibah tanah, beserta rumah dan inventaris yang ada di dalamnya dari keluarga besar Kho Song Biauw. Karena belum bersertifikat dan dihuni oleh keluarga-keluarga lain, maka jemaat perlu menggalang dana untuk mengatasi kesemuanya itu. Bersyukur partisipasi per­sembahan syukur Bapak Prof. Dr Singgih Gunarsa, Pdt. Dr. J.H.Wira­kotan dan Pdt. Budhiadi Henoch, Bapak Dr. Lukito M., Bapak Drs. Na Kiem Hwie dan sejumlah anggota jemaat serta simpatisan, amat membantu pendanaan tersebut. Akhirnya, puji syukur kepada Tuhan karena memasuki tahun 1990 semua permasalahan rumah tersebut teratasi tuntas, sehingga sah secara hukum. Kini rumah besar itu bernama `Rumah Anugerah', Jl. Gatot Subroto 34-36, Sokaraja 53181, berstatus Hak Milik GKI Sokaraja, menjadi pusat kegiatan gereja. Di halaman rumah besar itulah kini berdiri gedung gereja baru, yang diresmi­kan pada tanggal 1 Nopember 1994, sedang gedung gereja yang lama di Jl. Samanhudi, dijual.

Jemaat GKI Sokaraja menerima penugasan Klasis Purwokerto berkai­tan dengan kembalinya `Gereja Immanuel Purwokerto' (GIP) ke dalam lingkungan Klasis Purwokerto dan Sinode GKI Jawa Tengah. Selama 2 tahun Pdt. Yusak Endra Widyapranawa atas nama Majelis Jemaat GKI Sokaraja membimbing jemaat GIP, yang diterima kembali pada tang­gal 4 Juli 1991 dalam sebuah Upacara dan Kebaktian Penerimaan dengan nama baru `GKI D.I. Panjaitan, Puwokerto'.

Demikianlah perjalanan kehidupan GKI Sokaraja yang cukup panjang dan berliku, melintasi beberapa zaman. `Eben Haeser' (=Sampai di sini Tuhan menolong kita), begitulah semboyan jemaat GKI Sokaraja menghayati perannya di tengah masyakarat.

Pendewasaan
22 Maret 1966
Jadwal ibadah
Umum07.00; 17.00
Anak09.00
Pemuda/Remaja18.00 (Sabtu)

 

Kontak
  • Jl. Gatot Subroto 34-36, Sokaraja – 53181
  • (0281) 6441019
Statistik Anggota Jemaat
SidiBaptisan
PriaWanitaPriaWanita
Total anggota jemaat 0
Pendeta Jemaat
    Bakal jemaat
      -
    Pos
      -