GKI Sinode Wilayah Jawa Tengah

Login
Remember me
GKI Klasis Semarang Barat

GKI Tegal

Sejarah singkat

Ada dua badan zending yang menggarap pekabaran Injil di Tegal pada tahun 1855 yakni `Perhimpoenan Pemasjhoeran Indjil Didalam dan Diluar Geredja' yang berpusat di Jakarta dan disusul pada tahun 1862 Nederlands Gereformeerde Zendings Vereeniging (NGZV) yang mengutus guru Injil A. Vermeer ke Tegal. Atas prakarsa Residen Tegal A.A.M.N. Keuchenius, seorang Kristen yang setia, kedua badan zending tersebut didorong untuk bekerja sama dalam pengin­jilan. Keuchenius sendiri pada tahun 1864 menyerahkan sebidang tanah di desa Muaratua, tempat tinggal banyak orang Kristen dan di lokasi itulah pada akhirnya dapat dibangun sebuah rumah iba­dah. Selanjutnya, karena NGZV terbeban untuk melayani daerah lain, tak dapat melanjutkan peranan mengasuh jemaat yang ada di Tegal, maka pada tahun 1904 tugas tersebut diserahkan kepada Zending Salatiga yang berpusat di Jerman.

Pada tahun 1934 Zending Salatiga berhasil membangun gedung gereja di Jl. Kraton Selatan dan dikenal dengan sebutan `Gereja Zending' yang kemudian menjadi Gereja Kristen Jawa Tengah Utara dan kini dikenal dengan nama Gereja Kristen Jawa, Jl. dr Sutomo 34, Tegal. Di gereja itulah anggota-anggota jemaat Muaratua berkebaktian, karena gedung gerejanya mengalami kerusakan berat.

Kendati pada awalnya pekabaran Injil ditujukan kepada orang suku Jawa dengan bahasa Jawa, namun perkembangan kemudian juga dituju­kan kepada etnis Tionghoa dan suku-suku Indonesia yang lain. Seorang Tionghoa bernama Loe Sien Tjie yang berasal dari desa Cileduk dan dibaptis di Gereja Kristen Cirebon pada tanggal 12 Oktober 1930, pindah ke Tegal. Beliaulah yang meminta, agar guru Injil Madimin Prawirotirto juga memberitakan Injil kepada masyar­akat Tionghoa. Permintaan tersebut dilayani oleh guru Injil Madimin Prawirotirto dalam bentuk pertemuan rutin di rumah Sdr. Loe Sien Tjie, Bongstraat (Jl. Brigjen Katamso) dan dihadiri sekitar 15 orang. Buah sulung yang dihasilkan terjadi pada tanggal 7 Maret 1937, ketika enam orang pria dewasa dibaptis oleh Pdt H. Ratschen, seorang pendeta utusan dari Zending Salatiga yang ditempatkan di Tegal.

Di GKJTU terjadi perkembangan baru berupa pelayanan kebaktian dalam bahasa Melayu di samping bahasa Jawa. Khusus untuk pelaya­nan dalam bahasa Melayu diurus oleh Sdr. Loe Sien Tjie, Sdr. Saha­latuwa dan Sdr. Nihiwulu. Untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat Tionghoa, guru Injil Madimin Prawirotirto menghubung Pdt Pouw Peng Hong di Jakarta. Sayang beliau tak dapat memenuhi, bahkan guru Injil Madimin sendiri pada tahun 1937 pindah ke Purwodadi, karena tenaganya dibutuhkan di sana. Bersyukur pada tahun 1940 beliau kembali ke Tegal, sehingga pelayanan tersebut dapat dilanjutkan lagi. Inilah yang kemudian terjadi : sebuah kelompok katekisasi diadakan di rumah Sdr. Ong Sioe Han dan Ny Souw Koen Giok, sehingga pada tanggal 4 April 1943 menghasilkan seorang anak dan empat orang dewasa dibaptis oleh Pdt S. Kartosoegondo, pendeta konsulen dari GKJTU Pemalang. Mereka adalah : Oey Tjoei Lien (baptis anak), Sdr. Oey Tjioe Lam (J. Prawira Atmadja), Sdr. Ong Ping Hwa dan Ny Ong Sioe Han.

Dalam perkembangan, jemaat Tegal memperoleh perhatian dari Tiong Hoa Kie Tok Kauw Hwee Semarang, sebuah jemaat Tionghoa yang didewasakan pada tanggal 7 April 1935. Inilah permulaan keterli­batan jemaat itu dalam kehidupan jemaat di Tegal, ketika pada bulan September 1944 Pdt Liem Siok Hie mengadakan pembicaraan dengan Pdt Madimin Prawirotirto dan Sdr. Loe Sien Tjie tentang berdirinya cabang jemaat Tegal. Pertemuan ini dilanjutkan pada bulan Nopember 1944, yang dihadiri oleh Pdt Madimin, Sdr. Loe Sien Tjie, Pdt S. Kartosoegondo, Pdt Go Eng Tjoe (Paulus Sudirgo) dan guru Injil Go Hian Sing (Sam Gosana) dengan pokok pembicaraan tentang rencana kehadiran guru Injil Siem Tjien Ling (J.S. Probo­sukmono) pada tanggal 1 Januari 1945.

Guru Injil Siem Tjien Ling menginjakkan kaki di Tegal hanya dengan bekal pesan Pdt. Liem Siok Hie untuk menjumpai Sdr. Loe Sien Tjie, yang selanjutnya menempatkannya di rumah Sdr. Hoo Tong Gie. Setiap malam di rumah itu diadakan penjudian, namun bersyukur kepada Tuhan, bahwa pada akhirnya Sdr. Hoo Tong Gie sendiri mener­ima sakramen baptis suci pada tahun 1951. Ternyata tidak mudah untuk melakukan pekabaran Injil kepada masyarakat Tionghoa, mengingat adanya kendala tradisi, budaya dan adat istiadat Tionghoa yang pada dasarnya menolak agama Kristen. Terlebih guru Injil Siem Tjien Ling sendiri berpendidikan Belanda. Untuk mengatasin­ya, guru Injil Siem Tjien Ling berusaha mempelajari adat istiadat Tionghoa dengan cara mula-mula mendekati teman-teman dan sanak keluarga anggota jemaat. Setelah itu baru Injil disampaikan kepada mereka dalam suasana kekeluargaan. Di samping itu, beliau juga mengadakan pelajaran membaca dan menulis secara gratis bagi anak-anak di rumah tumpangannya. Ternyata Roh Kudus menggerakkan hati banyak orang untuk datang ke kebaktian hari Minggu pukul 17.00 dengan Sekolah Minggu pada pagi hari. Dalam melaksanakan perkun­jungannya, guru Injil Siem Tjien Ling didampingi oleh Sdr. Loe Khe Tie, anak dari Sdr. Loe Sien Tjie.

Selang enam bulan setelah kehadiran guru Injil Siem Tjien Ling, cabang jemaat Tegal memakai nama Tiong Hoa Kie Tok Kauw Hwee cabang Semarang dengan panitianya terdiri dari Penasihat Loe Sien Tjie, Ketua Guru Injil Siem Tjien Ling, Penulis Sdr. Oey Tjioe Lam (J. Prawira Atmadja dan bendahara Sdr. Hoo Hien Gwan (Nugroho H.G.). Berikutnya, akibat terjadinya perang, maka hubungan jemaat Tegal dengan induknya terputus, karena Semarang dikuasai oleh Sekutu sedang Tegal dikuasai oleh Republik Indonesia, sehingga untuk sementara diserahkan kepada THKTKH Purwokerto pada tahun 1945-1948.

Pada bulan Maret 1950 guru Injil Siem Tjien Ling menerima panggi­lan THKTKH Purworejo dan pada tanggal 18 Mei 1950 digantikan oleh guru Injil The Hian Hoo (Petrus Hardjopranoto) yang baru lulus dari sekolah teologi di Yogyakarta dan belum lama menikah. Ke­luarga baru itu menempati konsistori gedung GKJ Jl. dr Sutomo 34  selama hampir sembilan tahun. Pada awal pelayanan beliau di tengah jemaat, anggota dewasanya baru 33 orang dengan 13 orang anak baptisan. Kebaktian Minggu meminjam gedung gereja GKJ Jl. dr Sutomo 34 sampai 2 Oktober 1955, karena pindah ke gedung gereja GPIB `Ayalon', Jl. dr Sutomo 39-41. Selanjutnya pindah lagi ke gedung tua gaya Romawi di Jl. Letjen M.T. Haryono 1-3 seluas 1.915 m2 pada tanggal 4 September 1966, yang kemudian dibeli dan secara resmi menjadi milik GKI Tegal sejak tanggal 8 September 1977. Sementara itu, kebutuhan untuk memiliki pastori telah terlaksana pada bulan September 1959 jemaat GKI Tegal berhasil membeli rumah Jl. Gayam 13 (kini Gajah Mada 23).

Berkaitan dengan semangat penginjilan, cabang jemaat Tegal pada tanggal 11 Pebruari 1951 membuka pos PI di Pemalang dengan meng­gunakan gedung gereja GKJTU. Kendati baru seorang anggota sidi GKJTU pada diri Sdr. Liem Djan Gie dengan para simpatisannya yakni Ny. Liem Djan Gie, Ny. Tan Pik Kiang, Ny. Moemploek baptisan jemaat Pantekosta dan Ny. Kwee Twan Bie (Ny. Erpo). Meski perkembangan jemaat ini amat lambat, dengan penuh ketekunan jemaat cabang Tegal tetap melayaninya.

Dalam rentang waktu yang tidak lama, jemaat berkembang dengan baik, sehingga membangkitkan hasrat untuk menjadi jemaat dewasa. Untuk kerinduan itu, dilakukan pelawatan dari Klasis Semarang oleh Pdt Tan Ik Hay (Iskak Gunawan) dan guru Injil Ngo Nai Kiong pada tanggal 13 Maret 1952, yang kemudian disetujui dalam Persi­dangan Klasis Semarang tanggal 8-10 April 1952. Maka pada tanggal 12 Agustus 1952 dilakukan kebaktian `Peresmian Djemaat THKTKH Tegal Berdiri Sendiri' yang sama artinya dengan pendewasaan jemaat Tegal dengan nama `Tiong Hoa Kie Tok Kauw Hwee’ Tegal. Majelis Jemaatnya yang pertama adalah Ketua Pnt. The Hian Hoo, Penulis I Diaken Oey Tjioe Lam (J. Prawira Atmadja), Penulis II Diaken Hoo Hien Gwan (Nugroho H.G.), Bendahara Pnt. Oei King Ouw (Tirto Sutedjo W.), Lectuur Pnt. Tjia Hwat Tjay, dengan pendeta konsulennya Pdt. Tan Kiem Liong (Sulaiman Budipranoto) sampai tanggal 17 Nopember 1954. Ketika didewasakan, jumlah anggotanya 64 orang dewasa dan 42 orang anak baptisan.

Menjelang pendewasaan THKTKH Tegal, pada tanggal 26 Mei 1952 THKTKH Purwokerto menyerahkan pelayanan jemaat cabang Bumiayu kepada cabang jemaat Tegal dengan pertimbangan, bahwa THKTKH Purwokerto belum dapat memberikan perhatian dengan baik dan sebentar lagi jemaat cabang Tegal akan didewasakan. Pada waktu diserahkan, jumlah pengunjung kebaktian telah mengalami kemeroso­tan akibat pengungsian pada tahun-tahun sebelumnya, baik ke Tegal, maupun ke kota lain. Tak terkecuali, guru Injil Go Hian Sing yang pergi ke Solo dan tidak kembali lagi. Adapun Panitia jemaat cabang Bumiayu adalah Sdr. Istiar dan Sdr. Tan Kee Kiam.   Jemaat cabang / Bakal Jemaat Bumiayu diserahkan kembali ke GKI Purwokerto pada tanggal 1 Juli 1975.

Jemaat THKTKH Tegal juga memperhatikan masalah pendidikan dengan membuka Sekolah Rakyat (SD) pada tanggal 1 Agustus 1955 yang kemudian dikenal dengan nama `SD Putra Wacana'. Ruang kelasnya menggunakan gedung GKJ, GPIB dan ruang depan rumah Pdt M. Prawir­otirto. Untuk menangani persekolahan tersebut, dibentuklah Yayasan Sekolah dan Asrama Kristen (YSAK) dnegan pengurusnya yang pertama : Ketua, Pdt. The Hian Hoo (Petrus Hardjopranoto); Wakil Ketua, Bapak Soetjipto; Penulis I, Bapak Soenjono Hadisoedarmanto; Penulis II, Bapak Soekrowijono; Bendahara, Bapak Hoo Hien Gwan (Nugroho HG); Komisaris, Bapak Oey Tjioe Lam (J. Prawira Atmadja).

Setelah pendewasaan, jemaat Tegal menahbiskan guru Injil The Hian Hoo (Petrus Hardjopranoto) pada tanggal 17 Nopember 1954, namun beliau menerima panggilan GKI Purwokerto pada tanggal 12 Oktober 1959. Beliau digantikan oleh Pdt. Kho Im Liong (Imam Kosasih) yang sebelumnya melayani GKI Purbalingga dan sejak tanggal 1 Juni 1960 melayani GKI Tegal dan memasuki masa emeritasinya pada tanggal 7 Mei 1972. Sementara belum mempunyai pendeta, Pdt. Sulaiman Budi­pranoto menjadi konsulen jemaat GKI Tegal (Mei 1972 - 11 Nopember 1974). Jemaat cabang Bumiayu pada tanggal 5 Agustus 1958 menerima  kehadiran guru Injil Liem Ban Kwie (Hadiprajitno J.S.) yang melayani jemaat cabang tersebut hingga Juni 1960 sehubungan dengan kepindahan beliau ke GKI Purbalingga. Sebelum kepindahan beliau, keluarga Ong Tjeng Bie mempersembahkan sebuah gudang di Jl. Kali Erang untuk kemudian diubah menjadi rumah ibadah sejak tanggal 27 Oktober 1957.

Jemaat GKI Tegal memanggil guru jemaat Stepanus Sudibyo Triyoso (Tan Tjong Tjoen) pada tanggal 18 April 1973, yang ditahbiskan pada tanggal 11 Nopember 1974. Disusul Sdri. Rachel W.P. yang melayani jemaat per 1 Januari 1985 hingga 24 April 1989. Kemudian calon pendeta Priscilla A. Moesio sejak tanggal 13 Nopember 1989 dan calon pendeta Daniel Budiman sejak 1 Januari 1992 untuk bajem Pemalang.

Berkaitan dengan pembangunan sarana fisik pelayanan jemaat GKI Tegal, tercatat upaya pembangunan rumah ibadah di Jl. Melati 2 Pemalang yang diresmikan pada tanggal 2 Januari 1981; pembangunan/perluasan gedung gereja pada tanggal 3 Agustus 1985 dan dires­mikan pada tanggal 9 April 1986; pembangunan gedung pertemuan Eben Haeser yang diresmikan pada tanggal 9 Juni 1985; pembangunan gedung Elkana untuk keperluan kantor gereja, Taman Kanak-kanak, Sekolah Minggu dan gudang diresmikan pada tanggal 9 Nopember 1988; menyusul pembangunan rumah pastori di Pemalang yang selesai pada bulan Desember 1990.

Panggilan untuk menginjili bergema dalam kehidupan jemaat GKI Tegal. Karenanya, penginjilan ke kota-kota sekitar Tegal mulai dilakukan mulai akhir 1987 antara lain ke Adiwerna, Slawi, Balapulang, Marga Sari, Jatibarang, Brebes, hingga Losari. Khusus Pos PI dibuka sejak 3 April 1988 dengan panitianya Ketua I, Diaken Yesaya Suharno; Ketua II, Pnt. Yakub Subianto; Penulis, Ibu Lies Kuntaryo S.; Bendahara I, Ibu Diaken Natalia S.K.; Bendahara II, Ibu Antonius Handoko dan Anggota, Bapak Soenardjo.

Pendewasaan
12 Agustus 1952
Jadwal ibadah
Umum06.00; 08.00
Anak08.00
Remaja18.00 (Sabtu)

 

Kontak
Statistik Anggota Jemaat
SidiBaptisan
PriaWanitaPriaWanita
264349101106
Total anggota jemaat 820
Pendeta Jemaat
  • Pdt. Em. Stepanus Sudibyo Triyoso, S
  • Pdt. Priscilla A. Moesio
Bakal jemaat
    -